Sebanyak 600 takjil untuk berbuka puasa disalurkan kepada pengguna jalan yang melintas di depan Cafe Ngajak Kopi, GS Art Biliar

Kota Batu, Klikbatu.id – Hari ke-24 bulan Ramadhan tahun 1445 H, Komunitas Seduluran sak Lawase Batu mengadakan kegiatan bagi-bagi takjil gratis di depan Cafe Ngajak Kopi, Jalan Suropati 30, timur TMP, Batu, pada Kamis (4/4/2024).

Sebanyak 600 takjil untuk berbuka puasa disalurkan kepada pengguna jalan yang melintas di depan Cafe Ngajak Kopi, GS Art Biliar, dan Omah Cobek, Jalan Suropati 30, Batu.

Ketua Komunitas Seduluran sak Lawase Batu, Ghaib Sampurno, memimpin langsung kegiatan pembagian takjil ini.

Menurutnya, kegiatan ini merupakan bentuk sedekah dari komunitas yang didukung oleh GS Art Billiard, Omah Cafe, Ngajak Ngopi, Pobsi Kota Batu, dan Koni Kota Batu untuk berbagi kebahagiaan kepada masyarakat.

Ghaib Sampurno menegaskan kegiatan bagi-bagi takjil gratis ini dilakukan secara rutin setiap bulan Ramadhan di berbagai titik yang berbeda.

“Insyaallah, kami akan terus mengadakan kegiatan ini setiap tahunnya untuk berbagi kebahagiaan kepada masyarakat,” ujarnya.

Praktik memberi takjil gratis dalam komunitas saduluran sak lawase menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi Ramadan.

Memberi takjil gratis kepada sesama di bulan Ramadan dianggap sebagai amal ibadah yang sangat dianjurkan. Ini sesuai dengan konsep sadaqah atau amal kebajikan yang dianjurkan dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW telah mengajarkan pentingnya bersedekah dan berbagi rezeki kepada yang membutuhkan, dan bulan Ramadan adalah waktu yang paling tepat untuk melaksanakannya. Dengan memberi takjil gratis, umat Muslim tidak hanya memenuhi tuntutan agama, tetapi juga memperkuat ikatan sosial dan kebersamaan di antara sesama.

” Praktik memberi takjil gratis dalam komunitas sadukuran sak lawase mencerminkan solidaritas sosial yang kuat. Serta bagian dari warisan budaya yang kaya dalam masyarakat Muslim ” ungkap Ghaib.

Diakui, takjil gratis dalam komunitas sadukuran sak lawase tidak hanya memiliki makna yang dalam dari perspektif agama, tetapi juga merefleksikan nilai-nilai budaya yang kaya sebagai warisan budaya yang dilestarikan, dan keterlibatan komunitas yang kuat

( Wic)

By Redaksi

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *